Kamis, 29 Agustus 2013

Contoh Drama 7 orang

WANITA DAN PERSAHABATAN

            Ini kisah menceritakan para pemuda yang berstatus sebagai santri, mereka adalah sahabat yang selalu kompak dan setia kawan. Pada suatu hari Restu jatuh cinta pada seorang wanita yang bernama Dinda, dia sangat suka sekali pada si cewek itu, akan tetapi Restu tidak berani mengungkapkannya.

            Pada akhirnya teman-teman kamarnya curiga karena Restu sering ngelamun dan tersenyum sendiri, Restu pun bercerita karena dirayu oleh teman-temannya, namun tanpa disangka Abdul juga menyukai Dinda, ia pun marah ketika mendengar penjelasan Restu. Terjadilah permusuhan diantara mereka berdua dan akhirnya mereka memilih persahabatan daripada bermusuhan gara-gara wanita.

Tokoh-tokoh
Pemeran utama             : Fiqih Ismullah Azzuri sebagai Restu
Pemeran pembantu       : Firmansyah Zaenuri sebagai Abdul
                                      Kevin Nigel P. P sebagai Ades
                                      Fauzan Anditya Hafids sebagai Dodi
                                      Nurrohmah sebagai Dinda
Pemeran figuran            : Eko Nur Jayadi sebagai Rio
                                      Wirana A. U. Y sebagai Adit
Narrator                       : Angga Oktyashari



            Pada suatu hari dari dalam kamar terdengar perbincangan yang diselangi canda tawa.
Rio       : “Eh… tau nggak sekarang tanggal berapa?”
Adit      : “Ada apa kamu tanya-tanya tanggal? Emang ada yang penting?”
Rio       : “He he he … enggak ada apa-apa sih, cuman uang jajan ku hampir nipis nih, malahan hampir ludes."
Abdul   : “Sekarang tanggal 27 Agustus, makanya jadi orang jangan boros dong, terus kalau udah gini kamu pasti mau pinjam uang ya sama aku.”
Rio       : “He he he … kok tau.”
Ades    : “Yah … gimana nggak tahu, wong udah jadi tradisi kamu kalau uangmu habis pasti pinjam ke Abdul.”
Rio       : “Yah … kagak apa-apa, entarkan aku ganti, lagian Abdul kan uangnya banyak.”
Adit      : “Kalau Abdul itu kan anak juragan bawang jadi santai aja…”
Abdul   : “Ya makasih ocehannya.”

            Dan beberapa hari kemudian di sekolahan… Brukkkkkkk (Restu tidak sengaja menabrak seorang gadis yang ternyata adalah Dinda)

Dinda   : “Eh… kalau jalan lihat-lihat napa, nggak punya mata ya!”

            Restu pun hanya bengong melihat Dinda marah padanya.

Dinda   : “Hei… kok jadi bengong sih, emang ada yang lucu ya.”
Restu    : “O o o o, sorry ya aku enggak sengaja, a a aku lagi buru-buru mau ke toilet, maaf ya… maaf ya…”
Dinda   : “Makanya kalau jalan lihat-lihat napa, ya udah aku maafin.”
Restu    : “Eh… btw kamu anak baru ya? Kok aku baru sekarang lihat kamu…”
Dinda   : “Oh… aku anak baru di sini pindahan dari SMANSA BANJAR.”
Restu    : “Oh… kamu anak baru di sini, kenalin aku Restu anak XII IPA 2.”
Dinda   : “Aku kelas X, kak … maaf ya tadi marah-marah.”
Restu    : “Ya nggak apa-apa, oh ya nama kamu siapa?
Dinda   : “Nama aku Dinda.”
Restu    : “Nama yang cantik sesuai dengan orangnya.”
Dinda   : “Yeah… biasa deh jangan lebay, dasar KAMSEUPAY.”
Restu    : “Kalau emang kenyataannya cantik gimana?”
Dinda   : “Aduuh… udah dulu ya kak, nggak enak dilihat anak-anak lain.”
Restu    : “Ya udah… good luck ya…”
Dinda   : “Assalamu’alaikum.”
Restu    : “Wa’alaikumsalam.”

            Dan mereka masuk kekelas masing-masing hingga bel pulang bordering menandakan KBM telah selesai.
            Dalam hati Restu mengatakan “seandainya aku bias punya pacar seperti Dinda, alangkah indahnya dunia ini.”
            Restu tidak menyadari ada dua pasang mata yang sedang mengintipnya.

Dodi     : “Eh, Des… Restu kenapa ya dari kemarin dia jarang makan dan tersenyum sendiri?”
Ades    : “Mungkin dia kerasukan jin kali.”
Dodi     : “Hah jaman sekarang masih aja percaya sama yang gituan, mungkin dia lagi jatuh cinta kali, tapi… masa sih orang teater bias jatuh cinta?”
Ades    : “Ya lah… kan orang teater juga manusia, jadi biar nggak penasaran kita tanya aja yuuk.”
Dodi     : “Duar… hayooo kenapa kok melamun sambil senyum-senyum gitu?.”
Restu    : “Ah… kamu ini kaget-kagetin aku aja, nggak ada apa-apa kok.”
Ades    : “MASAKSIH…”
Restu    : “Iya… nggak ada apa-apa.”
Dodi     : “Tapi kenapa kamu senyum-senyum sendiri gitu? Lagi jatuh cinta yaa.”
Restu    : “Kamuini pinter neliti orang, kalau iya emang kenapa?”
Ades    : “Ya nggak apa-apa, tapi raja teater sekolah kita lagi jatuh cinta sama siapa ya, Dod?”
Dodi     : “Sama siapa yaa…”
Restu    : “Eh… kok jadi wawancara nih.”
Ades    : “Restu… cerita napa sih sama kita, barangkali kita bisa bantu.”
Restu    : “Tapi janji ya jangan gosipin aku…”
Dodi     : “Ya… kita janji nggak bakal gosipin kamu, emang cewek yang kamu suka itu siapa sih?”
Restu    : “Dinda itu loh anak baru di sekolah kita.”
Ades    : “Ooh… anak pindahan itu.”
Restu    : “Ya betul, tapi aku malu ngungkapinnya.”
Dodi     : “MALU!!! Masa sih anak teater yang sudah jadi juara nasional malu. Emang kamu bisa malu juga ya. Tu?”
Restu    : “Yah.. kalau di panggung si gampang, tapi kalau masalah hati buatku itu BERAAAT banget.”
Ades    : “Ya sudah aku doain aja ya semoga sukses.”
            Dan ketika malam hari di dalam kamar

Dodi     : “Hei teman-teman pada tahu nggak? Ada yang baru looh.”
Abdul   : “Apa?”
Ades    : “Si Raja teater sekolah kita lagi jatuh cinta looh.”
Adit      : “Wah… sama siapa tuh?”
Dodi     : “Denger-denger sih… sama anak baru.”
Abdul   : “Anak baru siapa?”
Ades    : “Dinda itu loh.”
Abdul   : “APA!!! DINDA??? (wajah Abdul berubah jadi marah dan ia segera lari menghampiri Restu).
Abdul   : “Eh.. kamu itu enggak tahu terima kasih ya, udah aku baik-baikin malah ngambil orang yang aku sukai!!!”
Restu    : “Loh emang kamu apanya dia??? (dengan nada keras dan sedikit kasar)
Abdul   : “Emang aku bukan siapa-siapa dia, tapikan aku lebih dulu PDKT sama dia.”
Restu    : “Terus mau kamu apa hah???” (dengan nada tinggi sambil menunjuk-nunjuk wah Abdul)

            Suasana semakin memanas, tanpa banyak bicara Abdul menerkam pipi Restu, dan Restu pun menarik kerah baju Abdul, tetapi perkelahian itu dapat dihentikan oleh teman-temannya dengan dipisahkan.

Adit      : “Lho kok jadi berantem sih, jangan cuma gara-gara cewek persahabatan kita jadi hancur. Perempuan itu banyak bukan cuma Dinda, inget kalian udah kelas XII seharusnya bisa belajar dewasa. Ya sudah ayo berdamai. Dan lupakan perempuan itu, sekarang yang harus kalian ingat adalah belajar, belajar dan belajar agar kalian lulus ujian nantinya.”

            Pada akhirnya Restu dan Abdul pun berdamai dan bersahabat kembali.



~THE END~