Rabu, 28 Agustus 2013

cerpen bad ending

FADIL

            Tring... ring... ring... ting


             
               Hi, Ren! Lgi ngapain nih?
               Dah maem lom?
               Bsok leh nggak aku maen
               k rmhmu? Boleh... ya...
               Sweet dream aj deh...

            Sms yang ditunggu-tunggu tak kunjung muncul juga. Mau tidurpun rasanya nggak pulas. Sudah berhari-hari Rena mengalaminya. Ingin rasanya Rena menatap wajahnya yang manis itu, rasa kangen yang begitu besar di hati Rena. Tapi... gimana caranya? Fotonya aja nggak punya, mau bertemu aja nggak tau dimana dia sekarang. Padahal mereka bersebelahan.
            Tring... ring... ring... ting...
            Dibukanya lagi Hpnya, yang ada hanyalah sms dari teman satu kelasnya. Teman yang selama ini pengganti dari Fadil.
            “Ren, kok kamu sekarang tidak seceria yang dulu sih? Ya, maksudku... ceriamu itu terlalu dipaksakan! Apa mungkin... kalau kamu nggak ceria maka keadaan sekitarmu juga nggak ceria. Apa itu isi dari hatimu? Apa kamu nganggapnya gitu? Aku rasa itu salah Ren!” baca Rena dalam hati.
            Rena terdiam membaca kiriman sms dari temannya itu. Rena merasa sms tersebut tak perlu dibalas. Karena jawaban itu sebenarnya hanya untuk dirinya sendiri.
            PUK!PUK!!
            Tepuk Rena pada wajahnya. Dia menghibur diri untuk selalu ceria tetapi ceritanya ini tidak ingin ia paksakan. Buat apa berlarut-larut dalam kesedihan, toh nyatanya cuma bikin hatinya sakit. Kalau kita emang bisa  mencari informasi dari mereka-mereka yang memang mengetahuinya! Hiburnya dalam hati.
            “Kalau aku nggak berusaha, bisa-bisa dia pergi duluan tanpa pamit denganku! Awas ya nanti! Kalau kamu mau pergi nggak pamit-pamit dulu sama aku!” ancam Rena dengan wajah dan tangan yang ia kepalkan lalu ia pukul-pukulkan ke telapak tangannya.
~o~
            “Selamat pagi semua.” sapa kakak Rena yang baru bangun dari tidurnya kepada seisi rumah.
            “Pagi kak.” sapa Rena ceria yang bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah.
            “Tumben, berangkat sepagi ini dek?” tanya kakaknya kepada Rena tapi tak dijawabnya.
            “Katanya dia ingin naik bus aja kalau berangkat ke sekolah pagi ini.” jawab ibu Rena “Sepertinya dia sudah kembali ceria seperti dulu.” sambung ibu Rena lagi.
            “Hmm... gitu ya.” angguk kakak Rena.
~o~
            Tentu saja sekolahnya masih sepi, yang ada hanya anak-anak OSIS yang mempersiapkan panggung buat lomba band nanti. Melihat mereka yang lagi sibuk, Rena datang dengan niat tak mau membantunya dan dia hanya ingin melihat temannya. Tapi ternyata yang dia cari tidak ada, karena temannya belum datang. Melihat anak-anak OSIS yang sibuk, Rena pun akhirnya membantu mereka.
            “Makasih ya. Kamu telah membantu kami menyiapkan semua ini.” kata ketua OSIS.
            “Sama-sama.” jawab Rena tersenyum.
            “Kamu Rena kan? Dari kelas XII eh... maksudku kelas XI kan!”
            “Yap! Why?”
            “Jangan-jangan kamu ya yang dulu sering bareng sama Kak Fadil?”
            “Yap!”
            “Eh... kalau ketemu dia titip salam ya! Aku ngefans sama dia!”
            “OK! Ntar aku sampein salam kakak.”
            “Thanks ya!” kata ketua OSIS mengakhiri pembicaraan. Dan Rena pun kembali bergabung bersama teman-temannya yang sudah pada berangkat.
            Jam delapan tepat acara sudah dimulai. Para siswa sekolahan sudah banyak yang berangkat dan berkumpul di depan panggung.
            Acarapun berlangsung seru. Dalam acara ini setiap kelas diwajibkan untuk menampilkan lagu-lagu minimal dua peserta atau group band. Kebanyakan dari mereka, enggak semua anggota satu group band dari sekolahnya. So, banyak anak luar yang datang untuk ikut partisipasi dan meramaikan acara ini.
            Ditengah-tengah asyiknya acara, keempat sahabat Rena saling berbisik. Tentu saja Rena bingung, tidak seperti biasanya sahabat-sahabatnya seperti itu.
            “Eh... ada apa sih kok pada bisik-bisik sendiri?” tanya Rena.
            “Nggak ada apa-apa kok ren!” jawab Kana.
            “Bener nih nggak ada apa-apa!” tanya Rena meyakinkan.
            Keempat sahabatnya pun langsung terdiam. Tak lama kemudian Ami mengajak Rena ke suatu tempat yang tenang diikuti oleh sahabat-sahabatnya. Dan ditempat itulah seakan-akan Rena disidang oleh sahabat-sahabatnya. Tentu saja hati Rena bertanya-tanya, sebenarnya ada apa sih? Kok aku sampai dibawa ke sini segala?
            Di tempat yang hijau dan dipenuhi dengan bunga-bunga, disertai pepohonan yang rindang. Mereka duduk di kursi yang telah disediakan oleh sekolahan dengan meja bundar sebagai pelengkap bagaikan tatanan meja kursi yang ada di restaurant.
            “Ren, benarkah kamu belum tahu mengenai Fadil?” tanya Ami perlahan.
            “Iya... bener kok! Ada apa sih?” jawabnya.
            “Padahalkan kamu teman dekatnya? Masa sampai belum tahu hal ini sih?” tanya Ami lagi.
            “Memang aku teman dekatnya! Ada hal apa sih yang ingin kalian beritahukan kepadaku?” tanya Rena tegas.
            Karena jawaban Rena yang meyakinkan, sahabat-sahabatnya pun memberitahunya secara perlahan agar Rena tidak sakit hati. Setelah mengetahuinya Rena sangat sedih. Rena meminta Ami untuk mengantarkannya pulang ke rumah. Sebagai sahabat, Amipun mau mengantarkannya.
            Baru aja sampai di pintu gerbang utama, terlihat kakak Rena yang baru mau mencari Rena. Tanpa banyak tanya, akhirnya Rena meminta kakaknya untuk mengantarkannya menemui Fadil. Dan pergilah mereka berdua. Sementara Ami kembali bergabung dengan kawan-kawannya.
~o~
            “Fadil, ayo! Jangan sampai ketinggalan pesawat lho!” ajak Mama Fadil.
            “Tapi, Ma! Fadill...” Fadil belum selesai berbicara, Mamanya sudah memotong pembicaraannya.
            “Kamu nunggu Rena kan?” tebak Mama Fadil.
            Fadil hanya mengangguk. “O... iya Ma! Tunggu sebentar ada yang tertinggal nih di dalam rumah!”
            “Ni kuncinya!”
            “Makasih, Ma!”
            Dengan segera Fadil masuk ke rumah dan mencari barang yang ketinggal tadi. Setelah ketemu, barang itu ditaruh di tempat dimana dulu ia dan Rena sering bermain bersama. Ia berharap agar Rena segera menemukannya setelah ia pergi nanti.
~o~
            Baru saja keluarga Fadil pergi, Rena sudah sampai di rumahnya dan dicarinya Fadil. Apa yang ia temukan? Hanyalah sebuah rumah tanpa penghuni lagi. Kemudian Rena teringat akan tempatnya bermain dulu. Barangkali ia masih ada di sana. Pikirnya.
            “Eh... Ren mau kemana?” tanya kakaknya.
            “Aku mau menemui Fadil kak!” jawab Rena.
            “Ikut kakak aja! Cepatlah!” aja kakak Rena.
            “Kemana kak?”
            “Mengantar keluarga Fadil pergi!”
            “Ah... aku ikut kak!” serunya semangat, dan terpancarlah kembali senyuman Rena.
~o~
            Di ruang tunggu, Fadil masih aja menunggunya.
            “Fadil, ada apa?” tanya Mamanya.
          “Ma, bolehkah Fadil menunggunya sebentar disini?” tanya Fadil pelan. “Rasanya kalau tidak mengucapkan perpisahan padanya, aku merasa bersalah.”
            “OK! Mama perbolehkan, asal jangan sampai ketinggalan pesawat.” Jawab Mama.
            “Benarkah! Makasih Ma.” seru Fadil ceria.
             Atas izin dari Mamanya, Fadilpun menunggu sendirian di ruang tunggu.
            “Aku harap kamu segera datang Ren!” harap Fadil.
~o~
            Diperjalanan kakak Rena mengendarai motor dengan cepat. Untung aja jalanan yang dilewati adalah jalan tol, karena hal ini dapat memperuntung mereka agar cepat sampai di bandara.
            Sesampainya di bandara, Rena langsung berlari masuk tanpa mempedulikan sekelilingnya. Setelah kakak Rena memakirkan motornya, ia segera menyusul adiknya masuk ke dalam.
            Fadil merasa tidak dapat menunggu Rena lagi. Maka Fadilpun memutuskan untuk segera pergi tanpa berpamitan dengan Rena. Baru berjalan beberapa langkah terdengar suara yang ia kenal dan memanggilnya.
            “Fadil!”
            Fadilpun menoleh kebelakang. Terlihat diantara orang-orang yang berjalan sesosok tubuh yang juga ia kenali. Tak salah lagi, ini pasti Rena! Tebak Fadil.
            “Fadiiiil!” teriak Rena lagi sambil berlari ke arah Fadil.
            “Rena!”
            Dengan nafas terengah-engah,akhirnya Rena sampai di depan Fadil.
            “Hey... hosh... hosh... hosh... hosh...! Kenapa sih? Kamu tak pernah sms aku lagi?” tanyanya terengah-engah. “Kenapa juga kamu... nggak ngomong ke... aku, hosh... hosh... hosh... kalau kamu mau pergi! Takut ya kalau aku marah tiba-tiba mendengar kamu berkata mau pergi?”
            “Bukan... bukan... maksudku begitu Ren!” jelas Fadil.
            “Hosh... hosh... hosh...” dengan nafas masih terengah-engah, Rena berkata, “Padahal, aku akan lebih marah lagi... jika kamu... heh... heh... tak berpamitan denganku!”
            “Ren... maaf ya! Selama ini aku nggak ngasih tahu ke kamu kalau aku mau kuliah dimana. Kuliah yang sebenarnya benar-benar aku inginkan.” jelas Fadil.
            “Nggak apa-apa kok kalau kamu nggak ngasih tahu itu... hiks... hiks..”jawab Rena dengan mata tergenang. “Karena apa hubungannya dengan ku, aku... kan... nggak bisa apa-apa...hiks... hiks... kecuali memberimu semangat!”
            Terdengar lagi sebuah peringatan bawah lima menit lagi pesawat yang dinaikki Fadil akan berangkat.
            “I know it, Ren!” jawab Fadil. “Oleh karena itu, aku ingin kamu selalu ceria tanpa aku disisimu, kamu juga harus lebih mengerti situasi sekitar tanpa aku. Dan... aku juga ingin kamu tahu ini...”pesan Fadil.
            Tanpa terasa air mata Rena mengalir.
            “Ah... maaf, kenapa ya tiba-tiba...” omongan Rena terhenti saat Fadil menghapus air matanya.
            “Aku tahu, kalau aku bukanlah cinta pertamamu. Aku merasa, lebih baik kita bersahabat saja sampai kapanpun.” kata Fadil yang selama ini belum pernah ia ungkapkan meski menggunakan kata-kata yang lain.
            Rena menggelengkan kepalanya. “Kamu salah Dil. Sebenarnya, sudah dari dulu aku menyukaimu. Hanya saja...” Rena terdiam sebentar. “Dulu sewaktu aku mau main ke rumahmu, aku melihat kamu dengan seorang cewek yang katanya kamu sangat menyukainya. Jadi... aku mereasa kalau aku sangat mengganggumu. Dan aku memutuskan...”
            “Memutuskan agar kita bersahabat dan sebagai teman sejak kecilkan?” sambung Fadil.
            Rena terkejut dengan kata-kata Fadil.
       Maaf ya, mungkin pada waktu itu aku nggak mengetahuinya dan sekarang ini adalah pembalasan untukku. Mungkin...” kata Fadil sambil memasuki pesawat.
            “Renaaa! Teriak kakaknya yang dari tadi mencarinya. “Ren!”
            “Ok! Kalau itu memang maumi!” ucap Rena lirih.
“Selamat berjuang ya! Semoga kita bisa bertemu lagi!” teriaknya.
“Rena.” Panggil kakaknya.
“Eh... kakak!” sapanya. “Keluarga Fadil dah berangkat tuh! Ayo kita pulang ke rumah kak!” ajak Rena.
Kakaknya hanya mengangguk saja. Dia sekarang ini tak berani ngomong tenang Fadil. Takut kalau hati adiknya akan bertambah sakit.
“Ayo, kak!”
Sesampainya di rumah, Rena langsung menuju ke tempat bermainnya Rena dan Fadil. Kenangan masa lalu yang takkan pernah terlupakan. Di bawah pohon jambu yang rindang dengan cabang-cabang yang mudah dipanjati dan dulu di salah satu cabang pohon jambu pernah dibuatkan sebuah ayunan kecil dari ban truck untuk mereka berdua.
Tiba-tiba Rena teringat akan masa kecilnya bersama Fadil. Pada waktu kecil Fadil pernah menyembunyikan kalung manik-maniknya, dan Rena kebingungan dimana kalung itu berada. Saat bertanya pada Fadil, Fadil malah tertawa. Hal ini membuat Rena berprasangka bahwa Fadillah yang menyembunyikannya. Tetapi Fadil tetap juga tidak mengakuinya. Sampai akhirnya Rena menangis dan Fadilpun mengakuinya dimana ia menyembunyikan kalung manik-manik Rena.
Tadinya, Rena hanya iseng-iseng aja menggali tanah di bawah pohon jambu dengan tangannya. Kini ia menemukan sebuah amplop karya Fadil. Di ambilnya amplop tersebut dan dibukanya. Di dalam amplop, Rena menemukan beberapa kenangan manis baik sewaktu SD, SMP maupun SMA. Tak lupa selembar kertas berwarna biru kesukaan Fadil yang tertulis suka dukanya untuk Rena.
Sambil naik ke atas dahan pohon, Rena membaca isi surat dari Fadil.
Tak lama kemudian sahabat-sahabat Rena datang. Tapi tidak ditemui Rena berada di rumahnya, meski kakaknya tahu diman Rena berada.

Entah kebetulan atau apa, mereka tepat berdiri di bawah pohon jambu yang dipanjati Rena. Air mata Rena yang menetes, telah mengenai wajah Tahta. Disitulah mereka menemukan Rena. Renapun turun dari pohon dan langsung memeluk Ami sebagai tempat ia menangis. Para sahabatnya bahkan Tahta mengerti apa yang dialami Rena sekarang.