Rabu, 10 Februari 2016

Iodo-Iodimetri

Assalamu'alaikum wr.wb
Kali ini saya membawakan sebuah teori atau materi tentang Iodo-Iodometri. Pada tau nggak sih apa sih Iodo-Iodometri itu? Untuk menjawab pertanyaan itu silahkan baca teori atau materi dibawah ini. Semoga membantu kalian :)


 Titrasi dengan iodium ada dua macam yaitu iodimetri (secara langsung), dan iodometri (cara tidak langsung). Dalam iodimetri, iodin digunakan sebagai oksidator, sedangkan dalam iodometri ion iodida digunakan sebagai reduktor. Baik dalam iodometri ataupun iodimetri penentuan titik akhir titrasi didasarkan adanya I2 yang bebas. Dalam iodometri digunakan larutan tiosulfat untuk mentitrasi iodium yang dibebaskan. Larutan natrium tiosulfat merupakan standar sekunder dan dapat distandarisasi dengan kalium dikromat atau kalium iodidat.
Teknik ini dikembangkan berdasarkan reaksi redoks dari senyawa iodine dengan natrium tiosulfat. Oksidasi dari senyawa iodine ditunjukkan oleh reaksi dibawah ini :
I2 + 2e → 2 I-             Eo = + 0,535 volt
Sifat khas iodine cukup menarik yaitu berwarna biru didalam larutan amilosa dan berwarna merah pada larutan amilopektin. Dengan dasar reaksi diatas reaksi redoks dapat diikuti dengan menggunakan indikator amilosa atau amilopektin.
Analisa dengan menggunakan iodine secara langsung disebut dengan titrasi iodimetri. Namun titrasi ini juga dapat dilakukan dengan cara menggunakan larutan iodida, dimana larutan tersebut diubah menjadi iodine, dan selanjutnya dilakukan titrasi dengan natrium tiosulfat, titrasi tidak iodine secara tidak langsung disebut dengan iodometri. Dalam titrasi ini digunakan indikator amilosa, amilopektin, indikator carbon tetraklorida juga digunakan, berwarna ungu jika mengandung iodine.
Iodimetri merupakan titrasi langsung dan merupakan metoda penentuan atau penetapan kuantitatif yang pada dasar penentuannya adalah jumlah I2 yang bereaksi dengan sampel atau terbentuk dari hasil reaksi antara sampel dengan ion iodida. Iodimetri adalah titrasi redoks dengan Isebagai peniter. Dalam reaksi redoks harus selalu ada oksidator dan reduktor, sebab bila suatu unsur bertambah bilangan oksidasinya (melepaskan elektron), maka harus ada suatu unsur yang bilangan oksidasinya berkurang atau turun (menangkap elektron), jadi tidak mungkin hanya ada oksidator saja ataupun reduktor saja. Dalam metoda analisis ini, analat dioksidasikan oleh I2, sehingga I2 tereduksi menjadi ion iodida :
A ( Reduktor ) + I2 → A ( Teroksidasi ) + 2 I 
Iod merupakan oksidator yang tidak terlalu kuat (lemah), sehingga hanya zat-zat yang merupakan reduktor kuat yang dapat dititrasi. Indikator yang digunakan adalah amylum yang akan memberikan warna biru pada titik akhir titrasi.
I2 + 2 e - → 2 I-
Iod merupakan zat padat yang sukar larut dalam air (0,00134 mol/L) pada 25°C, namun sangat larut dalam larutan yang mengandung ion iodida. Iod membentuk kompleks triiodida dengan iodida :
I2 + I- → I3-
Ion cenderung dihidrolisis membentuk asam iodida dan hipoiodit :
I2 + H2O → HIO + H+ + I-
Larutan standar iod harus disimpan dalam botol gelap untuk mencegah peruraian HIO oleh cahaya matahari.
2HIO → 2 H+ + 2 I- +O2(g)
Warna larutan iod 0,1 N cukup tua sehingga iod dapat bertindak sendiri sebagai indikator. Iod juga memberikan suatu warna ungu atau lembayung pada pelarut seperti CCl4 (kloroform), dan kadang-kadang digunakan untuk mendeteksi titik akhir. Namun lebih lazim digunakan suatu larutan amylum, karena warna biru tua kompleks pati-iod berperan sebagai uji kepekaan terhadap iod. Kepekaan itu lebih besar dalam larutan sedikit asam dari pada dalam larutan netral dan lebih besar dengan adanya ion iodida. Molekul iod diikat pada permukaan beta amilosa, suatu konstituen amylum.
Larutan iod merupakan larutan yang tidak stabil, sehingga perlu distandarisasi berulang kali. Sebagai Oksidator lemah, iod tidak dapat bereaksi terlalu sempurna, karena itu harus dibuat kondisi yang menggeser kesetimbangan kearah hasil reaksi antara lain dengan mengatur pH atau dengan menambahkan bahan pengkompleks.
Larutan iod sering distandardisasi dengan larutan Na2S2O3. Selain itu bahan baku primer yang paling banyak digunakan ialah As2O3 pada pH tengah. Berdasarkan reaksi :
I2 + 2 e- → 2 I-                                                      E◦= 0,536 volt
H3AsO3 + H2O → H3AsO4 + 2 H+ + 2 e-               E◦= 0, 559 volt



     H3AsO3 + H2O + IH3 → AsO4 + 2 H+ + 2 I-        E◦= -0,023 volt

Reaksi diatas menunjukkan bahwa sebenarnya iod terlalu lemah untuk mengoksidasi H3AsO4. Namun dengan mentitrasi pada pH cukup tinggi, maka kesetimbangan digeser kekanan (H+ yang terbentuk diikat oleh OH- dalam larutan yang berkelebihan OH- itu). Pada umumnya pH tersebut diantara 7 dan 9, tidak terlalu basa, karena akan mendorong disproporsional I2 terlalu banyak. Untuk mengatur pH tersebut, larutan yang agak asam dijenuhi dengan NaHCO3 yang akan menghasilkan penahan dengan pH antara 7 dan 8