Sabtu, 14 November 2015

Terkuak: Letusan Samalas (Rinjani), Lebih Besar Dari Krakatau Bahkan Tambora!



Wow!! Letusan Gunung Rinjani (Gunung Samalas), Ternyata Lebih Besar Dari Krakatau Bahkan Tambora!


Selama ini letusan dan erupsi gunung Krakatau dan gunung Tambora dianggap paling dahsyat di Indonesia, ternyata ada satu gunung lagi yang mengalahkan keduanya.
Peneliti telah mengamati jejak abu dan beberapa serpihan kimia dari sebuah gunung api yang pernah meletus dengan dahsyat dari jejaknya pada lapisan es, baik yang berada di Kutub Utara maupun di Kutub Selatan.
Namun sejauh ini masih menuai misteri, karena belum ditemukan gunung api yang meletus dan bertanggung jawab atas jejak-jejak abu di lapisan es tersebut.
Para ilmuwan mengatakan, temuan yang dipublikasikan dalam Proceedings of the National Academy of Sciences, itu adalah bahwa letusan gunung berapi tersebut adalah yang terbesar dalam 7.000 tahun terakhir, namun asal-usulnya telah membingungkan glaciologists, vulkanologi, dan ahli iklim selama beberapa dekade.

Yang sejauh ini peneliti ketahui, pada masa lalu sekitar tanggal 05 April 1815, gunung Tambora meletus dan mengakibatkan ribuan orang meninggal dunia. Bahkan letusannya juga melahirkan gelombang tsunami besar di kala itu.
Setelah Tambora, 68 tahun kemudian yaitu pada tanggal 27 Agustus 1883, gunung Krakatau meletus dengan hebat. Bahkan awan abunya sempat menutupi hampir seperempat bagian dari bumi.
Selain keduanya, menurut para peneliti, ternyata sekitar tahun 1257 ada gunung berapi lain di Indonesia yang juga meletus dengan dahsyat, yaitu gunung Samalas.
Karena letusan gunung Samalas tersebut, selain membuat banyak orang yang meninggal, suhu kala itu turun drastis dan banyak petani dari seluruh dunia yang mengalami gagal panen.
Kini struktur gunung itu telah berubah semenjak terjadi letusan pada masa lalu itu, dan diperkirakan letusan gunung satu ini lebih dahsyat dibandingkan dengan gunung Krakatau bahkan gunung Tambora!
Observasi lapangan pada lapisan piroklastik dari Letusan Gunung Samalas menunjukkan ketebalan maksimum yang diukur melebihi 1 m, dan kumulatif deposito jatuh mencapai hingga 1.60m
Peneliti Mencari “Pelaku” berdasarkan Catatan Letusan “Yang Gelapkan Dunia”
Sebuah ledakan misterius terjadi pada 1257, di abad ke-13. Saking dahsyatnya, jejak kimiawinya terekam dalam es di Arktik dan Antartika.
Teks dari Abad Pertengahan menceritakan tentang iklim yang secara mendadak mendingin dan panen yang gagal. Membuat warga susah, bahkan diduga banyak yang tewas.
Dan baru kini para ilmuwan menemukan gunung berapi yang bertanggung jawab atas peristiwa tersebut.
Dalam jurnal sains, PNAS, tim internasional menunjuk pada Gunung Samalas di Pulau Lombok, Indonesia yang ini dikenal sebagai Gunung Rinjani. Hanya sedikit struktur gunung api yang tersisa dan kini tampilannya hanya berupa danau kawah Segara Anak.

Gunung yang bernama Samalas yang kini “hampir tak tersisa dan hanya tinggal sisa letusannya” – sekarang lebih dikenal bernama Gunung Rinjani di Pulau Lombok, dituding sebagai penyebab perubahan iklim mendadak di abad pertengahan untuk wilayah Eropa dan sekitarnya.
Nah, ternyata inilah gunung yang dianggap bertanggung jawab telah menorehkan jejak-jejak abu vulkaniknya di lapisan es di kedua kutub Bumi.
Tim ilmuwan mengaitkan jejak sulfur dan debu di es di kutub dengan data yang ditemukan di wilayah Lombok, termasuk unsur radiokarbon, tipe dan penyebaran batu dan abu, cincin pepohonan, dan bahkan sejarah lokal yang menyebut tentang runtuhnya Kerajaan Lombok di suatu masa Abad ke-13.
“Buktinya sangat kuat dan menarik,” kata Profesor Clive Oppenheimer dari Cambridge University, Inggris, seperti dimuat BBC, 30 September 2013.
Profesor Clive Oppenheimer dari Cambridge University, Inggris.
Koleganya sesama ilmuwan, Profesor Franck Lavigne dari Pantheon-Sorbonne University, Prancis menambahkan, “Kami melakukan sesuatu yang mirip investigasi kriminal.”
“Awalnya kami tak tahu siapa tersangkanya, hanya berbekal hari ‘pembunuhan’ dan jejaknya dalam bentuk geokimia di inti es. Itu memungkinkan kami melacak gunung yang bertanggung jawab.”
Sebelumnya, para peneliti lain mengatakan bahwa terjadi perubahan iklim mendadak dikarenakan letusan gunung api Okataina di Selandia Baru dan El Chichon di Meksiko, namun bukti lain menyebutkan bahwa Samalas yang menjadi kandidat kuat sebagai ‘pelakunya.’
“Buktinya sangat kuat dan menarik,” kata Clive, seperti dikutip BBC (01/10/2013). Selain menjadi ‘pelaku’ berubahnya iklim secara mendadak di sebagian wilayah di planet ini, letusan dan erupsi Samalas juga dikait-kaitkan dengan sejarah lokal yaitu jatuhnya Kerajaan Lombok sekitar abad 13.
Bukti lain, seperti yang dituliskan di National Geographic (01/10/13), adalah terdapatnya teks dalam bahasa Jawa, Babad Lombok, yang menceritakan sebuah erupsi besar dari gunung api raksasa bernama Samalas yang akhirnya menciptakan sebuah kaldera atau kawah.
Ledakan 1257 tersebut sebelumnya dikira terkait sejumlah gunung di Meksiko, Ekuador, dan Selandia Baru. Namun, berdasarkan penelitian, sejumlah kandidat tersebut gagal memenuhi prasyarat karbon dating dan geokimia. Hanya Samalas yang cocok.
Letusan-letusan gunung api besar di dunia (wikipedia).
Peristiwa Global
Tim yang langsung turun ke Lombok mengindikasikan setidaknya 40 kilometer kubik batuan dan debu terlontar dari gunung yang mengamuk. Dengan ketinggian lebih dari 40 kilometer ke langit.
Ledakan tersebut pastilah luar biasa, hingga bisa mengirim material itu ke seluruh dunia, dalam jumlah yang signifikan untuk dilacak sampai ke Greenland dan lapisan es Antartika. Dan, akibatnya pada iklim juga luar biasa.
Perbandingan letusan besar gunung terkenal di dunia dengan Samalas
Teks-teks Abad Pertengahan mendeskripsikan cuaca yang mengerikan di musim panas tahun berikutnya, pada 1928: dingin, hujan yang tak kunjung berhenti, hingga memicu banjir.
Para arkeolog baru-baru ini juga menentukan perkiraan tahun kematian pada 1258 pada ribuan orang yang dimakamkan di kuburan massal di London.
“Kami belum bisa memastikan dua kejadian tersebut — meletusnya Samalas dengan kematian massal di London. Namun, warga di masa itu pasti sangat tertekan.”
Jika dibandingkan, kekuatan ledakan Samalas setidaknya sama besar dengan Krakatau (1883) dan Tambora (1815).
Inti es juga menyimpan jejak peristiwa kolosal pada 1809 yang masih jadi misteri. Seperti halnya jalan panjang menemukan Samalas, proses untuk mengetahui asal muasal peristiwa 1809 akan sulit.
“Luar biasa bahwa kita belum menemukan bukti dari peristiwa itu. Namun, tak ada tempat di dunia yang bisa mengubur kabar buruk seperti itu.”
Jadi apabila penelitian ini benar, maka ada 4 gunung api dengan letusan dan erupsi maha dahsyat di Indonesia, yaitu gunung Tobagunung Tamboragunung Krakatau dan kini, gunung Samalas. (BBC/ Ein/Yus/gunungrinjani.netpnas.org/ liputan6/ National Geographic)

Peta ini menunjukkan distribusi arus kepadatan piroklastik (pDCs) dari letusan Samalas dan lokasi sampel arang yang digunakan untuk penanggalan radiokarbon. Ledakan besar yang terjadi hampir 800 tahun yang lalu, mungkin telah membuat kota Pompeii terkubur, menurut para peneliti. (Distribution of PDCs from the Samalas eruption and location of charcoal samples used for radiocarbon dating) (pnas.org).

Sumber letusan juga telah dipersempit ke gunung berapi Samalas di Pulau Lombok di Indonesia . Hari ini , semua yang tersisa adalah sebuah danau kawah besar. (Samalas caldera and Segara Anak. (A) Photograph of the present caldera viewed from the east (photo: Zulz, “Gunung Baru” June 26, 2006 via Flickr, Creative Commons License). (B) Present (shaded tones surface) and preexplosion reconstructed topography (black grid). We assume that a caldera was absent before the mid-13th century eruption, because no other large Plinian eruption has been identified) (pnas.org).

Peta ini menunjukkan adanya batu apung yang besar dan sangat ringan dan berpori-batu vulkanik hingga 50 mm pada 46-km jarak tenggara dari ventilasi di Sumbawa. Para ilmuwan mengklaim ini menunjukkan besarnya besar letusan Samalas. (Isopach maps for Samalas plinian and phreatoplinian fall deposits. (A) Samalas F1 compared with the F4 Plinian fall unit of Tambora A.D. 1815 (20, 21). (B) Samalas F2 Phreatoplinian fall unit. (C) Samalas F3 Plinian fall unit. Isopachs were mapped for the F1, F2, and F3, from 44, 22, and 18 thickness measurements in the field, respectively. Interpolation of the data using a multiquadratic radial model was the first step in constructing the final isopach maps. Although much less widespread than the F1 unit, the distributions of the F2 and F3 units are both broader than the main Plinian fall unit of Tambora 1815) (pnas.org).

Radiocarbon and calibrated ages of the charcoal samples from the Samalas pyroclastic density current deposits using OxCal 4.2.2 and IntCal 09 (32, 33). Although some ages are older, none is younger than A.D. 1257 (at 95% confidence level). Based on this model, the Samalas eruption cannot be correlated with ice-core sulfate anomalies at A.D. 1275 and A.D. 1284 (2), which are clearly too young for our A.D. 1257 age model. This interpretation is consistent with written sources as discussed in the text (pnas.org).

Geochemistry of matrix glass [total alkalis vs. silica (TAS) diagram] sampled in pyroclastic fall deposits of the Samalas eruption, compared with the reported composition (13) of glass shards found in polar ice cores for the mid-13th century mystery eruption (mean ± 1σ). (pnas.org).
Jejak Letusan Gunung Samalas (Rinjani)

Mount Rinjani First Eruption 2015 Caught on Tape by Tourists FULL (Bali Airport Closed)


Dikutip dari https://indocropcircles.wordpress.com/2013/12/03/letusan-samalas-aka-rinjani/