Kamis, 30 Januari 2014

Cerita Rakyat 'Telaga Warna'



 

 TELAGA WARNA



Narasi Telaga Warna
            Pada zaman dahulu, wilayah puncak Bogor ada sebuah kerajaan bernama ‘Kutatanggeuhan’. Dipimpin oleh raja bernama ‘Prabu Suarnalaya’ dan permaisurinya bernama ‘Purbamanah’. Dibalik semua kemakmuran dan kebahagiaan rakyatnya, terselip sedih pada hati raja dan ratu. Pernikahaannya yang berumur 20 tahun itu, mereka belum mempunyai anak. Berbagai cara telah dilakukan sang raja dan dibantu juga oleh penasihatnya. Tetapi belum ada hasil, akhirnya sang penasihat menyarankan untuk mengangkat anak saja. Namun, raja menolaknya.
            Akhirnya Raja Prabu Suarnalaya memutuskan bertapa di Puncak Gunung Gede. Setelah beberapa hari, datanglah malaikat padanya. Malaikat itu menyuruh Sang Raja untuk pulang ke rumah, dan mengatakan bahwa Sang Raja tidak mungkin mempunyai anak dan sebaiknya mengangkat anak. Sang Raja marah-marah, tapi malaikat itu pergi begitu saja. Raja bersumpah akan tetap bertapa sampai keinginannya dikabulkan, walaupun iblis yang mengabulkan. Dan terdengarlah suara, suara itu adalah suara iblis, iblis itu benar-benar mengabulkan keinginan Sang Raja. Dia akan memberikannya anak, tetapi anak itu diciptakan dari mata air telaga, dan berpesan untuk tidak pernah memarahinya, karena akan kehilangan anak itu selamanya. Rajapun lalu pulang.
            Beberapa bulan kemudian, Sang Permaisuri merasakan tanda-tanda kehamilan, tetapi badannya merasa demam. Lalu dibawanya ke tabib, ternyata Sang Permaisuri benar-benar hamil. Setelah sembilan bulan sepuluh hari, lahirlah seorang bayi perempuan yang sangat cantik. Bayi itu diberi nama Nirwana Ayu Kencana.
            Hari berganti hari, Sang Raja dan Permaisuri selalu memanjakan anak semata wayangnya itu. Sejak kecil, anak itu sudah sangat nakal. Walaupun begitu, mereka tidak berani memarahinya, karena mereka takut perjanjian waktu itu.
            Tibalah usia putri ke-17, Raja mencarikan hadiah terindah, untuk Sang Putri. Raja datang ke rumah ahli perhiasan. Disana, sambil menunggu kalung pesanannya, Raja melihat anak tukang perhiasan itu yang bernama Bening. Anak itu begitu manis dan sangat patut terhadap orangtuanya. Raja melamunkan jika putrinya seperti Bening. Di acara puncak ulang tahun Sang Putri, Raja memberikan kalung warna-warni itu. Tapi Sang Putri menolak kalung itu dan melemparnya ke hadapan Ibunya. Habislah kesabaran Raja, ini adalah pertama kalinya Raja marah terhadap Sang Putri. Tiba-tiba sebuah mata air muncul di halaman Istana dan membuat sebuah genangan air di halaman Istana. Rakyat ketakutan dan menyalahkan Sang Putri dan tiba-tiba tubuh Sang Putri perlahan-lahan menyatu dengan air dan tubuhnya mencair seluruhnya. Sang Raja berteriak-teriak tapi tidak ada guna lagi, karena tubuh Sang Putri sudah menghilang



NARATOR    : “Zaman dahulu kala, wilayah puncak Bogor ada sebuah kerajaan yang bernama ’Kutatanggeuhan’ yang dipimpin oleh Raja Prabu Suarnalaya dan permaisurinya bernama Purbamanah. Tetapi mereka belum mempunyai anak dan penasihatpun menyarankan agar prabu dan ratu mengangkat anak.”
*) Di panggung, Raja dan Ratu duduk berdua. Ratu bermuka melas dan sedih, begitu juga Raja
Penasihat         : “Maaf Yang Mulia, saya mengganggu sebentar.”
Raja                 : “Tidak apa-apa penasihatku, ada apa kau datang menghadapku?”
Penasihat         : “Begini yang mulia, setelah kita mencari beberapa cara untuk Yang Mulia bisa mempunyai keturunan, tidak ada satu carapun yang berhasil, saya sarankan agar Yang Mulia memilih jalan lain.” (begini yang mulia, setelah mencari beberapa cara agar yang mulia memiliki keturunan namun yang kita lakukan tidak berhasil, hamba memiliki saran yang mulia)
Raja                 : “Jika begitu apa itu penasihatku?”
Penasihat         : “Yang Mulia, saya sarankan agar Yang Mulia mengangkat anak saja.”
Raja                 : “Tidak, penasihatku! Bagi kami anak kandung lebih baik dari pada anak angkat.”
Penasihat         : “ Tapi, Yang Mulia ....”
Raja                 : “Tidak ada kata tapi penasihatku, sudahlah lebih baik kau beristirahat saja.”
Penasihat         : “Baiklah Yang Mulia, saya permisi.”
NARATOR    : “Sang Raja melihat Ratu yang sering menangis di halaman istana, Rajapun ikut sedih.”
Raja                 : “Sudahlah Dinda pasti kita akan memiliki anak.”
Ratu                : “Iya, tentu saja Kanda.”
NARATOR    : “Suatu hari, Raja memutuskan untuk bertapa di puncak gunung.”
Raja                 : “Dinda, aku akan pergi untuk sementara waktu untuk bertapa di puncak gunung.”
Ratu                : “Baiklah, hati-hati Kanda.”
NARATOR    : “Setelah beberapa hari kemudian, datanglah malaikat mendekati Raja yang sedang bertapa.”
#DI PUNCAK GUNUNG#
Malaikat          : Suarnalaya, pulanglah saja kau. Kau memang tidak pernah mempunyai anak, itu sudah garis takdirmu, sebaiknya kau mengangkat anak saja.”
Raja                 : “TIDAK!!! Aku tidak akan pulang sebelum hajadku ini ada yang mengabulkan sesekalipun iblis.”
Iblis                 : “Suarnalaya, ada hajad apa kau bertapa disini?”
Raja                 : “Aku ingin mempunyai keturunan. siapa kau? bisakah kau membantuku?”
Iblis                 : “Aku iblis penjaga gunung ini, aku bisa menuruti hajadmu, kan ku buatkan kau anak yang ku ciptakan dari air mata telaga, dengan satu syarat kau tidak boleh memarahinya. Jika kau memarahi dia, kau akan kehilangan dia selamanya.”
NARATOR    : “Setelah itu Rajapun pulang dan beberapa bulan kemudian, sang permaisuri merasakan tanda-tanda kehamilan, tetapi badanya merasa demam. Lalu dibawanya ke tabib.”
Ratu                : “Kanda, aku merasa pusing dan mual, tapi badanku juga demam.”
Raja                 : “Dinda, mari kita ke tabib saja.
#DI RUMAH TABIB#
Raja                 : “Tabib, periksalah istriku ini, sepertinya ada yang aneh.”
Tabib               : “Baiklah, Yang Mulia.”
            BEBERAPA MENIT KEMUDIAN
Tabib               : Istri Yang Mulia tidak apa-apa, tapi Yang Mulia harus bahagia, karena istiri Yang Mulia hamil dan masalah demam itu, istri Yang Mulia hanya terlalu letih saja.”
Raja                 : “Benarkah, ini adalah berita paling indah.”
NARATOR    : “Setelah 9 bulan berlalu, lahirlah seorang putri cantik yang diberi nama ‘Nirwana Ayu Kencana’. Setiap hari putri selalu dimanjakan oleh raja dan ratu. Sejak kecil sang putri sudah sangat nakal, walaupun begitu raja dan ratu tidak berani memarahinya, karena mereka takut pada perjanjian iblis.”
Putri                : “Bunda, aku ingin 70 ekor kuda yang bersayap.”
Ratu                : “Bagaimana Bunda harus mencarinya sayangku?”
Putri                : “Aku tidak mau tahu, pokoknya aku mau itu!”
Ratu                : “Ganti yang lain saja putriku?”
Putri                : “Bunda pelit....!”
NARATOR    : “Tibalah usia putri yang ke-17, Raja mulai mencari pernak-pernik yang indah. Raja pergi ke tukang perhiasan.”
Raja                 : “Selamat siang, apakah ini benar rumah ahli perhiasan?”
Istri Ahli Perhiasan     : “Benar, tuanku. Sebentar saya panggilakan suami saya.”
Ahli Perhiasan : “Iya, tuanku, ada yang bisa saya bantu?”
Raja                 : “Bisakah anda buatkan aku kalung yang paling indah buat putriku.”
Ahli Perhiasan : “Tentu tuanku, tunggulah sebentar.”
Raja                 : “Terimakasih banyak.”
Ahli Perhiasan : “Sama-sama tuanku.
NARATOR    : kemudian sang ahli perhiasan memanggil putrinya.
Ayah              : “Bening....!”
Bening             : “Iya, ayah ada apa?”
Ahli Perhiasan : “Tolong ambilkan palu nak.”
Bening             : “Baik ayah, tunggu sebentar. (sambil mengambilkan palu di meja) ini ayah palunya.”
NARATOR    : “Sang Raja melamun, anak itu begitu manis dan patuh, andai saja sang putri seperti Bening. Setelah beberapa lama kemudian kalung pesanannya jadi, setelah itu raja kembali ke istana.”
            DIACARA PUNCAK
Raja                 : “Anakku, terimalah hadiah ini untukmu diusia ke-17 ini.”
Putri                : “Apa ini ayah (lalu dibukalah kado dari ayahnya) hah....!!! kalung apa ini, aku tidak suka (lalu dilemparlah kalung itu dan mengenai ibunya).”
Raja                 : “(marah) Dasar anak durhaka kau.”
NARATOR    : “Tiba-tiba ada mata air muncul dihalaman istana dan membuat sebuah genangan, rakyat takut dan menyalahkan sang putri.”
#Semua rakyat menyalahkan sang putri#
NARATOR    : “Tiba-tiba tubuh sang putri menyatu dengan air dan mencair seluruhnya. Air itu menjadi berwarna yang disebabkan oleh kalung yang dilempar sang putri tadi bercampur dengan air. Sang Raja berteriak-teriak tapi tidak ada guna lagi. Dan akhirnya genangan air itu disebut dengan Telaga Warna.”

*TAMAT*